Senin, 22 November 2010

Tips Membersihkan Virus McD di Facebook

Klik Account Privacy Settings

Klik Remove utnuk menghilangkan aplikasi HD Video Player yang jahat

JAKARTA, KOMPAS.com - Sudah terlanjur mengeklik video McDonalds di Facebook yang ternyata virus iseng? Jangan khawatir. Akun Anda dipastikan aman karena virus tersebut tidak mencuri password.

Tapi, bukan berarti akun Facebook Anda aman dari ulah iseng pembuat virus. Pasalnya, begitu aplikasi jahat tersebut masuk akun Anda, ia bisa melakukan apa saja yang bisa membuat repot. Bukankah saat akan menonton video heboh soal McDonalds, Anda sudah rela memberikan akses kepada aplikasi tersebut untuk memprosting apa saja di wall Anda dan mengirim apapun ke semua teman Anda? Begitu Anda mengeklik allow saat itu, virus bekerja dan secara tidak sengaja Anda telah menyampah di inbox semua teman dengan undangan berisi link yang sama karena ulah virus iseng tersebut.

Nah, sebelum pelaku pembuat virus tersebut berulah lagi, bisa apa saja yang dilakukannya dari mengirim iklan spam sampai mungkin sumpah serapah dan link gambar porno, buruan bersihkan virus tersebut dari akun Facebook Anda. Bagaimana caranya? Ikuti kiat dari Vaksincom, penyedia solusi keamanan, di bawah ini (lihat gambar sebagai panduan).

1. Klik [Account] [Privacy Settings] Anda akan membuka menu "Choose Your Privacy Settings"

2. Klik [Edit your settings] dari menu "Applications and Websites" di pojok kiri bawah untuk membuka menu "Choose Your Privacy Settings > Applications, Games and Websites

3. Klik [Remove unwanted or spammy applications] untuk membuka layar "Applications, Games and Websites > Applications You Use dak klik tanda "X" di sebelah "Edit Settings"

4. Anda akan mendapatkan layar konfirmasi Remove, klik tombol [Remove] untuk menghapus program HD Video Player

Sumber : Vaksincom

Koneksi 3G yang Tidak Bohong

Laporan Amir Sodikin dari Hakone, Jepang   
HAKONE, KOMPAS.com — Koneksi internet paling kencang di dunia memang bukan milik Jepang, melainkan Korea Selatan. Namun, Jepang benar-benar contoh sukses penerapan teknologi 3G. Di sela-sela acara Media Tour Fuji Xerox bersama para jurnalis Asia Pasifik di Jepang, 16-19 November 2010,Kompas sempat iseng mencoba berbagai koneksi internet yang tersedia.

Dalam uji tes koneksi internet di Hotel Royal Park, Tokyo, kecepatan koneksi internet di ruangan hotel tersebut, yang diberikan secara gratis, mencapai 8,32 Mbps untuk 
transfer data untuk download. Adapun untuk upload 9,20 Mbps. Ya, untuk upload justru lebih tinggi dibanding untuk download, berbeda dengan kebiasaan di Indonesia yang terbiasa mencekik lebar pita untuk upload data.

Nilai ping ke server speedtest yang digunakan untuk tes yang berada di Tokyo menunjukkan angka fantastis, yaitu hanya 7ms, seolah server hanya ada di samping komputer kita yang digunakan untuk tes. Bukti tes bisa dilihat di http://www.speedtest.net/result/1032198443.png.  
Koneksi yang dites lewat fasilitas speedtest.net ini terdeteksi menggunakan provider Softbank, salah satu provider layanan data papan atas di Jepang. Tokyo memang kota utama di Jepang, yang terhubung langsung ke jaringan backbone internasional.  
Lalu bagaimana dengan layanan data di daerah sub-urban di Jepang? Kompas kembali iseng mencoba koneksi di Hakone, Prefektur Kanagawa. Kota kecil di pegunungan yang biasa dikunjungi turis untuk melihat Gunung Fuji dari dekat ini hanya memiliki cacah jiwa 13.339 (data 2010 dikutip dari Wikipedia).

Dari hasil tes, angkanya justru mencengangkan, yaitu untuk download menunjukkan 10,01 Mbps dan untuk upload 9,36 Mbps. Koneksi 
terdeteksi menggunakan NTT Docomo. Namun, biayanya tidak gratis, yaitu sekitar Rp 60.000 per hari (tarif dari hotel). Bukti tes bisa dilihat di http://www.speedtest.net/result/1035476167.png.  
Hasil ping menunjukkan nilai di atas tes di Tokyo, yaitu 18ms. Hal ini bisa dimaklumi karena serveryang digunakan untuk tes koneksi ini menggunakan server Speedtest dengan lokasi di Tokyo, yang berjarak 80 km lebih dari Hakone.  
Dengan koneksi seperti itu, untuk download atau mengunduh file mp3 sebesar 5 MB hanya dibutuhkan waktu sekitar 4 detik. Untuk unduh klip video 35 MB, waktu yang dibutuhkan hanya 11 detik. Jika ingin mengunduh data film sebesar 800 MB, maka hanya dibutuhkan waktu kira-kita 11 menit.
Untuk upload atau unggah email 1 MB, waktu yang dibutuhkan hanya 1 detik. Untuk unggah foto 8 MB hanya dibutuhkan waktu 7 detik. Adapun untuk unggah video 35 MB, waktu yang dibutuhkan hanya 30 detik.  
Itu berarti, koneksi mereka lebih kencang dibanding proses saat kita memindahkan foto-foto koleksi dari kamera ke komputer menggunakan card reader dengan kabel USB versi 2, apalagi jika menggunakan kabel USB versi 1. Selain itu, tentu saja, menonton film di internet atau menonton video di Youtube layaknya menonton televisi konvensional yang tak lagi putus-putus. 
Di Jepang, tampaknya biaya berlangganan televisi kabel dianggap lebih mahal dibanding internet. Karena itu, hotel-hotel di Jepang terbiasa tidak jor-joran menyediakan TV kabel seperti hotel-hotel di Indonesia pada umumnya. Sebagai gantinya, mereka melengkapi kamar hotel dengan sebuah PC yang terhubung ke internet broadband.  
Saatnya menuntutJika pengalaman ini ditarik ke kondisi Indonesia, kalau sampai dibilang bahwa Indonesia adalah negeri para pembual untuk hal-hal yang berbau politik dan bisnis, rasanya kita sulit membantahnya. Ya, kali ini kita terpaksa membandingkan bagaimana Indonesia dan Jepang mendefinisikan koneksi 3G di negara masing-masing.  
Indonesia, dengan banyaknya provider telepon seluler GSM dan CDMA yang menyediakan layanan data, telah lama mengampanyekan dan mengklaim menggunakan teknologi 3G, bahkan 3,5G, atau bahkan sedang uji coba 4G. Hiruk pikuk perang layanan data ini begitu intensif sehingga di setiap pameran teknologi informasi dan pameran komputer, berbagai perangkat koneksi internet diobral, terutama modem, dengan koneksi 3G atau 3,5G.  
Di tingkat penggunaan telepon seluler, sekarang hampir tak ada anak muda yang menggunakan telepon seluler yang bukan 3G karena kampanye soal telepon seluler berbasis 3G yang bisa video call sukses dilakukan. Padahal, koneksi yang didapat masih berkisar maksimal di bawah ratusan kbps, jauh dari janji-janji koneksi 3G yang harusnya bisa mencapai sekian mbps.  
International Telecommunication Union (ITU) memang tak mendefinisikan berapa kecepatan internet sebuah provider jika mengklaim diri sebagai penyedia layanan 3G. Namun, setidaknya kita sepakat bahwa koneksi internet 3G di Indonesia harusnya tak hanya sekadar setara GPRS yang hanya 56-114 kbps, atau parahnya kurang dari angka GPRS itu.  
Seberapa cepat koneksi internet kita di rumah atau di kantor? Sudahkah memenuhi ekspektasi awal ketika kita membeli paket data tersebut? Ayo share data kecepatan internet Anda, salah satunya dengan memanfaatkan tes di www.speedtest.net.

Share bisa Anda lakukan di blog dan juga di berbagai forum agar penyelenggara internet di negeri kita sadar dan mau memperbaiki diri untuk Indonesia yang lebih baik. Jangan eksploitasi lagi konsumen dengan janji-janji manis! Saatnya konsumen menuntut!

Komik tentang Mark Zuckerberg Akan Difilmkan


AFP/Justin Sullivan
CEO Facebook Mark Zuckerberg.
SAN FRANCISCO, KOMPAS.com — Pendiri dan CEO Facebook Mark Zuckerberg tengah naik daun. Setelah produser film mengangkat kisahnya saat mendirikan layanan jejaring sosial tersebut dalam film The Social Network, kali ini komik mengenai Zuckerberg juga akan difilmkan.

Hayden 5 Media dan Bluewater Productions akan membuat film pendek dari buku komik berjudul Mark Zuckerberg: Creator of Facebook. Film tersebut akan dikemas mirip fiksi ilmiahA Scanner Darkly yang memadukan tokoh nyata dengan animasi sehingga kesan komik tetap terasa.

"Kami melihat peluang untuk menceritakan ulang kisah Mark Zuckerberg setelah The Social Network dengan bentuk animasi indah yang dapat dinikmati dan dipahami audiens lebih luas," kata Todd Wiseman, Presiden Hayden 5 Media, Sabtu (20/11/2010).

Buku komiknya sendiri akan beredar di AS mulai akhir Desember 2010 dengan harga 6,99 dollar AS. Buku tersebut dikarang oleh Jerome Maida dan digambar oleh Fritz Saalfeld.

Sumber : AFP

"The Daily" Calon Media Pertama Khusus iPad

AFP
Pengunjung melihat iPad di Apple Store.
WASHINGTON, KOMPAS.com — Banyak media cetak baik surat kabar maupun majalah yang bertransformasi ke dalam format media di iPad. Namun, taipan media Rupert Murdoch memilih untuk menciptakan media baru yang khusus untuk perangkat tablet buatan Apple tersebut.

Media tersebut bernama The Daily. Rupert Murdoch, entah sengaja atau tidak, menyebut nama media baru yang sedang dikembangkan kelompok bisnisnya News Corp itu dalam wawancara di Fox Business Network, pekan lalu. Namun, ia tidak menjelaskan lebih lanjut seperti apa isi media itu.

Terobosan baru yang diambil News Corp telah menjadi bahan pembicaraan di media AS mengingat hal itu mungkin akan menjadi media pertama yang hanya hadir di iPad. Dua sumber dalam News Corp yang enggan diungkap identitasnya menyatakan bahwa The Daily akan diluncurkan sebelum akhir tahun ini.

Tidak main-main, The Daily akan digarap editor-editor terkemuka dari sejumlah media di bawah News Corp. Misalnya, Sasaha Frere-Jones, kritikus musik di majalah The New Yorker sebagai editor budaya. Nama lainnya, Jesse Angelo, editor eksekutif New York Post dan Greg Clayman, mantan Kepala Divisi Digital Viacom yang akan menjadi Kepala Operasional Bisnis The Daily. Majalah Forbes bahkan menyumbang total 150 stafnya dalam proyek tersebut dan menganggarkan dana 30 juta dollar AS untuk setahun ke depan.

Belum ada informasi apakah media tersebut akan tersedia gratis atau berbayar. Namun, selama ini Murdoch dikenal sebagai pengusaha media yang lebih suka menarik bayaran dari pembacanya. Murdoch juga tokoh yang tidak setuju bahwa konten online harus selalu gratis. Menurutnya, pembaca harus tetap membayar untuk mendapatkan informasi berkualitas demi kelangsungan hidup media. WSJ.comThe Times, dan The Sunday Times miliknya menerapkan biaya langganan kepada pengunjungnya untuk mendapatkan akses penuh.

Murdoch meyakini bahwa iPad akan menyelamatkan perusahaan media cetak yang mengalami penurunan oplah selama beberapa tahun terakhir. Menurutnya, media di tablet tidak memakan pangsa pasar media cetak, tetapi hanya hadir dalam bentuk yang berbeda. Bahkan lebih efisien karena perusahaan tidak perlu mengeluarkan biaya cetak, tinta, kertas, dan distribusi.

Sumber : AFP

Mouse tapi Berbentuk Pulpen

GENIUS
Pen Mouse Genius
JAKARTA, KOMPAS.com - Selama ini bentuk mouse terbilang standar dengan bentuk oval, namun Genius menawarkan mouse berbentuk pulpen. Dengan bentunya yang ramping, pengguna dapat mengoperasikan kursor komputer layaknya menulis sehingga tidak harus selalu mencengkeram mouse di atas meja.

Perangkat ini tidak hanya berfungsi sebagai mouse saja, namun juga bisa menjadi presenter. Saat presentasi, penggunanya langsung bisa memanfaatkannya untuk mengatur tampilan Power Point di layar. Praktis bukan.

Apalagi, Pen Mouse menggunakan koneksi nirkabel melalui gelombang 2,4 GHz yang bisa terhubung hingga jarak 10 meter. Tinggal colok dongle ke konektor USB, dan aktifkan Pen Mouse. Lebih lanjut lagi, unit ini memiliki fungsi hemat daya dan sensor deteksi otomatis, sehingga pada saat tidak digunakan, Pen Mouse akan langsung merubah mode menjadi sleep mode. Dan untuk kembali menggunakannya, cukup tekan tombol apa saja untuk aktivasi.
Pen Mouse juga memiliki teknologi optical sensor 1200DPI sehingga memberikan kenyamanan ketika menggunakannya karena dapat digunakan pada lingkungan kerja manapun, tidak harus di tempat datar. Desain multi fungsi juga ditambahkan pada unit ini, Anda dapat menggunakannya pada resolusi 400/800 dan 1200 DPI untuk mencapai kemampuan ergonomic maksimal.

Untuk kenyamanan kebutuhan browsing web atau dokumen, Pen Mouse mengembangkan fungsi auto-induction, Yang akan mengenali secara otomatis X axis dan Y axis dan melacak untuk bertindak, sehingga mengurangi rasa pegal pada jari ketika penggunaan dalam waktu lama atau tekanan yang terlalu sering.

Pen Mouse berfiturkan interface yang cocok digunakan untuk pengguna kidal ataupun normal, pengguna dapat menyesuaikan untuk setiap posisi pemegangan sehingga mendapatkan posisi yang nyaman untuk mereka melalui built-in UI dan ini dapat membantu untuk mengurangi ketegangan pada pergelangan tangan.
Harga satu unit Pen Mouse 44,9 dollar AS atau sekitar Rp 400 ribuan. Perangkat ini hanya bekerja pada komputer dengan sistem operasi Windows XP/Windows Vista/Windows 7.